Melampaui Tren dan Ruang Diskusi:
Ketika Pemuda Mengubah Sustainability Menjadi Aksi

“Where the purpose is unknown, abuse is inevitable.”
— Louis Asante Yeboah, CEO Vehlverde Group, Ghana
Ada satu kalimat dari sesi International Knowledge Sharing bersama SADJIWA, Vehlverde Group, dan Earth Talk Initiative yang terus terngiang di pikiran saya: “Where the purpose is unknown, abuse is inevitable.” Bagi saya, kalimat tersebut bukan sekadar tentang pentingnya memiliki tujuan, tetapi juga mengajak kita untuk mempertanyakan kembali bagaimana kita memahami sustainability. Di tengah semakin populernya gaya hidup ramah lingkungan dan berbagai narasi tentang keberlanjutan, muncul satu pertanyaan yang tidak kalah penting: apakah kita benar-benar memahami tujuan di balik sustainability, atau justru hanya mengikuti tren yang sifatnya sementara?
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan bagi generasi muda yang hidup di era ketika isu lingkungan dapat menyebar dengan cepat melalui media sosial. Istilah seperti green lifestyle, eco-friendly, dan sustainable living semakin akrab dalam percakapan sehari-hari. Namun, popularitas sebuah isu tidak selalu berarti pemahaman yang mendalam terhadap persoalan di baliknya. Sebuah tren dapat membangun kesadaran, tetapi tanpa pemahaman dan tujuan yang jelas, sustainability berisiko berhenti sebagai sekadar gaya hidup atau wacana.
Sebagai bagian dari Youth Engagement SADJIWA yang berkesempatan mengikuti ruang diskusi tersebut, saya membawa kegelisahan yang lebih luas sebagai seorang anak muda: bagaimana kita dapat memastikan bahwa sustainability tidak berhenti sebagai sebuah tren, tetapi benar-benar dipahami dan diwujudkan menjadi aksi yang berdampak? Bagi saya, pertanyaan inilah yang kemudian menjadi titik awal untuk merefleksikan kembali peran generasi muda dalam membawa sustainability dari ruang diskusi menuju perubahan yang nyata.
Dari Trend-Follower Menjadi Problem-Solver
Dalam sesi tersebut, saya mengajukan satu pertanyaan kepada Mr. Louis: “Bagaimana pemimpin muda bisa membantu komunitas lokal benar-benar memahami hakikat keberlanjutan, daripada sekadar mengikuti tren ramah lingkungan yang sementara?”
Dalam jawabannya, Louis menekankan pentingnya bagi pemimpin muda untuk mengambil inisiatif dan mulai menyelesaikan persoalan yang spesifik. Menurutnya, ide dan kata-kata memang penting untuk membangun kesadaran, tetapi kepercayaan tumbuh ketika masyarakat dapat melihat bukti bahwa sebuah solusi benar-benar bekerja. Inilah yang ia sebut sebagai proof of work: menunjukkan aksi nyata sebelum mengajak lebih banyak pihak untuk percaya, berkolaborasi, dan memperluas dampak. Bagi saya, pesan tersebut terdengar sederhana, tetapi justru menyimpan pelajaran yang kuat tentang arti kepemimpinan dan perubahan.
Dari sini, saya menyadari bahwa sustainability tidak cukup hanya dibicarakan. Ia harus diterjemahkan menjadi sesuatu yang dapat dilihat, diuji, dan dirasakan oleh masyarakat. Tren dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran, tetapi bukan tujuan akhir. Tantangan bagi generasi muda adalah mengubah perhatian menjadi kepedulian, kepedulian menjadi inisiatif, dan inisiatif menjadi solusi yang benar-benar menjawab persoalan di sekitar kita.
Karena itu, mungkin sudah saatnya kita bergeser dari trend-follower menjadi problem-solver. Tidak semua anak muda harus menciptakan inovasi besar, membangun teknologi baru, atau mendirikan perusahaan energi terbarukan. Kita dapat memulai dari masalah yang paling dekat dengan kita, menguji solusi dalam skala kecil, dan membuktikan bahwa perubahan dapat dimulai dari tindakan yang konkret. Dari sana, kepercayaan dapat tumbuh, kolaborasi dapat dibangun, dan dampak dapat diperluas.
Berpikir Lokal untuk Menemukan Solusi yang Relevan
Menjadi problem-solver juga berarti memahami persoalan dan potensi di tempat kita berada. Salah satu pelajaran yang saya tangkap dari sesi tersebut adalah pentingnya mengoptimalkan kekuatan lokal. Louis menekankan bahwa pembangunan akan lebih kuat ketika masyarakat mampu memanfaatkan keunggulan yang mereka miliki. Ghana, misalnya, memiliki potensi besar dalam energi surya dan sektor agrikultur. Sementara itu, Indonesia memiliki kekuatan pada sumber daya seperti energi panas bumi dan maritim yang dapat dikembangkan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.
Bagi saya, prinsip ini mengingatkan bahwa inovasi tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru. Inovasi juga dapat berarti menemukan cara yang lebih baik untuk memanfaatkan potensi yang sudah kita miliki dalam menjawab persoalan nyata. Karena itu, solusi yang berhasil di satu tempat belum tentu dapat diterapkan begitu saja di tempat lain. Setiap masyarakat memiliki tantangan, sumber daya, budaya, dan kebutuhan yang berbeda.
Generasi muda perlu belajar untuk tidak hanya membawa gagasan global ke tingkat lokal, tetapi juga melihat dan memahami potensi yang ada di sekitarnya. Dengan memahami konteks lokal, kita dapat mengembangkan solusi yang lebih relevan, kontekstual, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Bagi saya, di sinilah problem-solving menjadi lebih dari sekadar menghasilkan ide: ia menuntut kemampuan untuk memahami masalah sebelum menentukan solusi.
Ketika Ide Harus Bertahan Setelah Euforia Berakhir
Namun, memiliki solusi saja tidak cukup. Salah satu pesan kuat yang saya tangkap dari Louis adalah bahwa banyak masyarakat sebenarnya tidak kekurangan ide. Tantangan yang sering muncul justru terletak pada konsistensi dalam eksekusi, akuntabilitas, dan budaya pemeliharaan (maintenance culture). Sebuah proyek dapat diluncurkan dengan penuh semangat, sebuah kampanye dapat memperoleh perhatian besar, dan sebuah program dapat menjadi viral dalam waktu singkat. Tetapi, apa yang terjadi setelah perhatian publik beralih? Di situlah keberlanjutan benar-benar diuji.
Dampak tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar sebuah inisiatif ketika pertama kali diluncurkan, tetapi juga oleh kemampuannya untuk terus berjalan setelah euforia berakhir. Apakah komunitas memiliki rasa kepemilikan? Apakah ada cara untuk menjaga agar inisiatif tersebut tetap berjalan? Apakah para pemangku kepentingan tetap berkomitmen ketika hasilnya belum dapat terlihat dalam waktu singkat? Bagi saya, pertanyaan-pertanyaan ini penting bagi siapa pun yang ingin terlibat dalam isu sustainability, terutama generasi muda yang sering menjadi penggerak berbagai inisiatif sosial dan lingkungan.
Pada akhirnya, kepemimpinan bukan hanya tentang kemampuan untuk memulai sesuatu, tetapi juga tentang kesediaan untuk bertahan, mengevaluasi, memperbaiki, dan memastikan sebuah inisiatif tetap relevan. Sebab, ide yang baik hanya akan menjadi gagasan jika tidak diwujudkan secara konsisten. Eksekusi adalah jembatan yang mengubah niat menjadi dampak.
Pemuda sebagai Penghubung antara Pengetahuan dan Aksi
Diskusi ini juga membuat saya merefleksikan kembali posisi generasi muda dalam ekosistem pembangunan berkelanjutan. Kebijakan dan pengetahuan tentu memiliki peran yang sangat penting, tetapi transformasi tidak akan terjadi apabila gagasan hanya berhenti dalam dokumen, ruang konferensi, atau percakapan publik. Di sinilah saya melihat ruang penting bagi generasi muda: menjadi penghubung antara pengetahuan dan aksi, antara kebijakan dan komunitas, serta antara gagasan dan implementasi.
Namun, peran tersebut tidak berarti bahwa anak muda harus bekerja sendirian. Justru, perubahan membutuhkan kolaborasi dengan pemerintah, akademisi, sektor swasta, komunitas, dan masyarakat sipil. Dalam kapasitas saya sebagai Youth Engagement di SADJIWA, perspektif ini terasa semakin relevan. Keterlibatan pemuda seharusnya tidak berhenti pada membuat kegiatan atau mengumpulkan peserta, tetapi juga menciptakan ruang agar pengetahuan tentang sustainability dapat diterjemahkan ke dalam bahasa yang dipahami masyarakat, dikembangkan melalui kolaborasi, dan pada akhirnya diwujudkan menjadi aksi.
Bagi saya, peran tersebut bukan sekadar tentang jabatan atau organisasi, melainkan tanggung jawab yang lebih luas sebagai bagian dari generasi muda. Kita bukan hanya penerima dampak dari keputusan yang dibuat hari ini, tetapi juga bagian dari generasi yang akan hidup dengan konsekuensi dari keputusan tersebut. Karena itu, keterlibatan pemuda dalam sustainability bukan hanya tentang berbicara untuk masa depan, tetapi tentang ikut mengambil bagian dalam membentuknya sejak sekarang.
Melampaui Tren, Menuju Aksi yang Memiliki Tujuan
Pada akhirnya, sesi International Knowledge Sharing ini membawa saya kembali pada kalimat yang disampaikan di awal: “Where the purpose is unknown, abuse is inevitable.” Dalam konteks sustainability, mungkin pertanyaan terpenting bukan lagi seberapa sering kita membicarakan keberlanjutan, tetapi untuk apa kita melakukannya, persoalan apa yang ingin kita selesaikan, dan apakah kita bersedia melakukan pekerjaan yang dibutuhkan agar perubahan tersebut dapat bertahan.
Bagi saya, sustainability membutuhkan lebih dari sekadar ide yang baik. Ia membutuhkan tujuan yang jelas, pemahaman terhadap konteks lokal, keberanian untuk memulai, serta disiplin untuk terus menjalankan dan memperbaiki apa yang telah dimulai. Sebab, perubahan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki sumber daya paling besar, tetapi juga oleh siapa yang mampu mengubah gagasan menjadi aksi, membuktikan bahwa aksi tersebut bekerja, dan menjaga agar dampaknya tetap bertahan.
Mungkin sudah waktunya bagi kita, terutama generasi muda, untuk berhenti sekadar mengikuti tren keberlanjutan dan mulai bertanya lebih dalam: masalah apa yang ingin kita selesaikan, dan perubahan seperti apa yang ingin kita tinggalkan? Mari mulai dari persoalan yang nyata, membangun solusi yang relevan dengan konteks kita, dan membuktikannya melalui tindakan. Karena pada akhirnya, sustainability bukan tren yang harus kita ikuti. Ia adalah tanggung jawab yang harus kita kerjakan, buktikan, dan terus kita jaga.
Penulis: Lailatul Fitriyah – SADJIWA