Can Innovation Create a Better World?

Belajar Inovasi Energi Terbarukan dari Ghana untuk Generasi Muda Indonesia

“Bisakah sebuah inovasi tercipta tanpa mengorbankan lingkungan?” Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan di tengah berbagai tantangan global yang kita hadapi saat ini. Perubahan iklim, krisis energi, urbanisasi yang semakin pesat, hingga degradasi lingkungan menunjukkan bahwa pembangunan tidak lagi cukup hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi. Kemajuan perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga keberlanjutan agar generasi mendatang tetap memiliki kesempatan yang sama untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Tema tersebut menjadi pembuka sekaligus tema perdana dalam program Knowledge Sharing yang diselenggarakan oleh SADJIWA. Program ini di inisiasi sebagai wadah untuk memperluas wawasan, bertukar gagasan, dan berbagi pengalaman serta praktik baik di bidang lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan komunitas, akademisi, maupun praktisi untuk membangun sinergi dalam menjawab berbagai tantangan lingkungan.

Kick off program Knowledge Sharing berlangsung pada 11 Juli 2026, sebagai pembuka kegiatan yang kedepannya akan diselenggarakan secara berkala. Pada kegiatan perdana ini SADJIWA berkolaborasi dengan Himpunan Mahasiswa Kimia (HIMASKA) Universitas Pakuan dan Komunitas Earth Talk Initiative. Peserta yang hadir mencapai lebih dari 40 orang, baik dari kalangan mahasiswa, dosen, komunitas, maupun masyarakat umum. Pada sesi ini, menghadirkan pembicara dari lintas negara untuk berbagi pengalaman dan inspirasi kepada generasi muda Indonesia dalam mengembangkan inovasi di bidang energi terbarukan.

Inspirasi mengenai hal tersebut datang dari Ghana, sebuah negara berkembang di Afrika Barat. Di tengah tantangan penyediaan energi dan pembangunan, seorang pengusaha muda bernama Louis Asante Yeboah menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu berasal dari negara maju. Melalui pemanfaatan energi terbarukan dan potensi lokal, ia membuktikan bahwa negara berkembang pun mampu menghadirkan solusi yang berdampak bagi masyarakat serta mendorong pertumbuhan ekonomi.

Pengalaman tersebut dibagikan Louis, Founder & CEO Vehlverde Group, dalam sesi Knowledge Sharing #1 bertajuk Can Innovation Create a Better World? Berangkat dari pengalamannya membangun perusahaan energi terbarukan di Ghana, Louis mengajak peserta melihat inovasi dari perspektif yang lebih luas. Baginya, inovasi bukan hanya tentang menciptakan teknologi baru, tetapi juga tentang bagaimana manusia memahami masalah, memanfaatkan potensi yang ada, dan membangun kolaborasi untuk menciptakan perubahan.

Lalu, bagaimana inovasi dapat menjadi solusi bagi tantangan pembangunan berkelanjutan? Apa saja pelajaran yang dapat dipetik dari pengalaman Louis di Ghana? Berikut rangkuman pembahasannya.

Kemajuan dan Keberlanjutan Harus Berjalan Bersamaan

Dalam membuka presentasinya, Louis tidak langsung berbicara tentang energi terbarukan, ia membuka pemaparannya dengan memperkenalkan Vehlverde Group. Perusahaan multisektor yang ia bangun dengan visi yaitu Powering Progress Sustainably—mendorong kemajuan melalui pendekatan yang berkelanjutan. Melalui perusahaannya ia mengembangkan berbagai lini bisnis mulai dari bidang energi terbarukan, konstruksi hijau, ekonomi sirkular, pertanian, manufaktur, logistik, hingga jasa keuangan. Dari sanalah ia mengajak peserta memahami bahwa kemajuan ekonomi dan keberlanjutan tidak harus saling bertentangan. Bagi Louis, keduanya harus berjalan bersamaan.  

Pertumbuhan ekonomi, industrialisasi modern, dan pembangunan infrastruktur tetap menjadi bagian penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, seluruh proses tersebut perlu dilakukan dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan agar manfaat pembangunan tidak hanya dirasakan oleh generasi saat ini, tetapi juga tetap tersedia bagi generasi mendatang. Salah satu contoh yang ia soroti adalah kondisi akses energi di Ghana, yang mana masih memiliki sekitar 12 persen penduduk yang belum menikmati listrik. Angka itu mungkin terlihat kecil, tetapi bagi Louis, kondisi ini menunjukkan bahwa akses energi bersih masih belum merata. Karena itu, pengembangan teknologi pembangkit listrik berbasis energi terbarukan menjadi salah satu langkah strategis Vehlverde Group untuk menjawab permasalahan tersebut.

Bagi Louis, pembangunan berkelanjutan tidak hanya berkaitan dengan penyediaan energi, tetapi juga dengan upaya meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap berbagai tantangan lingkungan, terutama perubahan iklim. Karena itu, setiap proses pembangunan perlu dirancang dengan mempertimbangkan risiko iklim agar mampu mengurangi potensi kerugian di masa depan.

Louis memberikan contoh Ghana pernah menghadapi banjir besar akibat hujan ekstrem yang berlangsung selama dua belas jam. Peristiwa tersebut menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta kerugian ekonomi yang besar.  Perubahan iklim memang meningkatkan risiko terjadinya bencana. Namun, dampaknya sering kali diperburuk oleh aktivitas manusia, seperti pembangunan yang mengabaikan kawasan resapan air atau urbanisasi yang berlangsung tanpa perencanaan lingkungan yang memadai. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pembangunan berkelanjutan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Kemajuan tetap harus dikejar, tetapi tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan keseimbangan lingkungan.

Lalu, jika pembangunan berkelanjutan menjadi tujuan, dari mana perubahan harus dimulai? Bagi Louis, jawabannya bukan hanya terletak pada teknologi, tetapi juga pada cara manusia berpikir.

Inovasi Dimulai dari Mindset dan Konsistensi

Ketika mendengar kata inovasi, banyak orang mungkin langsung membayangkan teknologi canggih atau penemuan baru. Namun menurut Louis, inovasi justru berawal dari cara seseorang memahami masalah dan mencari solusi. Tanpa pola pikir yang tepat, teknologi yang tersedia tidak akan mampu menghasilkan dampak yang maksimal.

Louis mengajak generasi muda untuk mengubah lima pola pikir utama: beralih dari sekadar menjadi pengguna teknologi menjadi pencipta solusi, dari ketergantungan menuju rasa memiliki (ownership), dari eksploitasi sumber daya menuju regenerasi, dari orientasi jangka pendek menuju keberlanjutan jangka panjang, serta dari menunggu solusi menjadi berani menciptakan solusi melalui tindakan nyata.

Namun, pola pikir yang baik belum cukup untuk memastikan keberhasilan inovasi. Louis menekankan pentingnya kedisiplinan, akuntabilitas, dan konsistensi dalam menjalankan sebuah gagasan. Banyak ide memiliki potensi besar, tetapi gagal memberikan dampak karena tidak diikuti dengan proses pelaksanaan yang berkelanjutan.

Inovasi Vehlverde Group: Memanfaatkan Potensi Lokal sebagai Solusi

Pola pikir tersebut kemudian diwujudkan Louis melalui berbagai inovasi yang dikembangkan Vehlverde Group. Menurutnya, setiap negara memiliki tantangan sekaligus keunggulan yang berbeda. Karena itu, inovasi tidak harus selalu meniru negara lain, melainkan perlu dibangun berdasarkan potensi lokal yang tersedia.

Di Ghana, salah satu potensi terbesar yang dimanfaatkan adalah intensitas sinar matahari yang tinggi hampir sepanjang tahun. Selain itu, negara tersebut juga memiliki lahan pertanian yang luas serta jumlah penduduk usia muda produktif yang tinggi. Berbagai potensi tersebut menjadi dasar bagi Vehlverde Group dalam mengembangkan solusi energi terbarukan berbasis tenaga surya.

Teknologi yang dikembangkan perusahaan tersebut tidak hanya berfokus pada penyediaan listrik saja, namun juga dapat diimplementasikan di berbagai sektor yang dibutuhkan masyarakat. Beberapa penerapannya meliputi sistem irigasi tenaga surya untuk mendukung pertanian, penyediaan listrik bagi sekolah, rumah tangga, dan fasilitas kesehatan, hingga sistem cold storage untuk membantu menjaga kualitas hasil pertanian dan perikanan. 

Salah satu konsep yang diperkenalkan Louis adalah Intelligent Integration, yaitu pendekatan yang menggabungkan berbagai teknologi energi agar dapat bekerja secara lebih efisien dalam satu sistem. Contohnya adalah Solar Roof Tiles, yaitu atap bangunan yang sekaligus berfungsi sebagai pembangkit listrik tenaga surya. Melalui konsep tersebut, fungsi bangunan dan sumber energi dapat digabungkan sehingga penggunaan material menjadi lebih efisien sekaligus menghasilkan energi bersih.

Pengalaman Vehlverde Group menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dari sumber daya yang besar. Justru, keterbatasan dan tantangan yang dihadapi suatu wilayah dapat menjadi pemicu lahirnya solusi yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Tantangan dalam Mengembangkan Energi Terbarukan

Meskipun memiliki potensi yang besar, pengembangan energi terbarukan masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu hambatan utama adalah tingginya biaya investasi pada tahap awal. Sistem energi terbarukan membutuhkan modal yang cukup besar sehingga penerapannya belum dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.

Di Ghana, sebagian besar panel surya masih berasal dari impor, terutama dari Tiongkok. Ketergantungan terhadap produk luar negeri membuat biaya sistem tenaga surya menjadi lebih tinggi karena dipengaruhi oleh biaya pengiriman, tarif impor, serta komponen pendukung lainnya. Namun, kondisi tersebut tidak menjadi alasan untuk menghentikan transisi menuju energi bersih. Louis mendorong masyarakat untuk memulai dari sistem yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing, kemudian mengembangkannya secara bertahap.

Menurutnya, perubahan besar sering kali dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Peningkatan penggunaan energi terbarukan secara bertahap dapat mendorong berkembangnya industri lokal, menurunkan biaya teknologi, sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap energi bersih.

Bagi Louis, energi terbarukan memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar mengurangi emisi karbon. Teknologi tersebut juga dapat menjadi alat untuk meningkatkan produktivitas masyarakat, memperluas akses energi, dan menciptakan peluang ekonomi baru.

Energi Terbarukan Membuka Peluang Green Jobs

Transisi energi tidak hanya berbicara mengenai lingkungan, tetapi bagaimana hal ini dapat membuka lapangan pekerjaan. Louis menjelaskan bahwa berkembangnya sektor energi terbarukan membuka berbagai peluang karier bagi generasi muda dari berbagai latar belakang.

Peluang tersebut tidak hanya tersedia dalam bidang teknis, seperti teknisi panel surya, auditor energi, dan teknisi kendaraan listrik. Sektor ini juga membutuhkan tenaga profesional di bidang bisnis, seperti pengembang proyek energi, konsultan keberlanjutan, serta pemasaran energi bersih. Selain itu, perkembangan teknologi digital turut membuka peluang bagi profesi seperti analis data, software developer, dan smart grid engineer. Hal ini menunjukkan bahwa transisi menuju ekonomi hijau membutuhkan keterlibatan berbagai disiplin ilmu. Bidang teknik, kimia, lingkungan, ekonomi, teknologi informasi, hingga kebijakan publik memiliki peran masing-masing dalam membangun sistem energi berkelanjutan ini.

Louis juga menekankan bahwa pembangunan berkelanjutan tidak dapat diwujudkan oleh satu pihak saja. Pemerintah memiliki peran dalam menciptakan kebijakan, perguruan tinggi berperan melalui riset dan inovasi, sementara pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat menjadi penggerak dalam penerapan solusi di lapangan. Kolaborasi antar pihak ini menjadi kunci agar inovasi tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Penutup: Inovasi Dimulai dari Langkah Kecil

Berdasarkan pengalaman yang dibagikan Louis, inovasi memang memiliki kemampuan untuk menciptakan perubahan positif. Namun, inovasi bukan hanya tentang menciptakan teknologi baru atau penemuan baru.

Inovasi lahir dari keberanian melihat permasalahan dengan cara berbeda, kemauan memanfaatkan potensi yang tersedia, kedisiplinan dalam menjalankan gagasan, serta kemampuan membangun kerja sama dengan berbagai pihak.

Pengalaman Ghana memberikan pelajaran bahwa negara berkembang pun mampu menghadirkan solusi yang relevan dan berdampak. Bagi Indonesia, pesan tersebut menjadi sangat penting. Dengan kekayaan sumber daya alam dan jumlah generasi muda yang besar, Indonesia juga memiliki peluang untuk mengambil peran dalam mendorong transisi menuju ekonomi hijau.

Dalam menutup presentasinya, Louis mengajak generasi muda untuk tidak hanya menjadi penonton dalam menghadapi tantangan lingkungan, tetapi menjadi penggerak untuk menciptakan solusi. Perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar. Sering kali, perubahan justru tumbuh dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Karena itu, pertanyaan Can Innovation Create a Better World? Bukan lagi hanya menjadi tema diskusi. Namun, menjadi ajakan untuk melakukan sebuah refleksi: “Inovasi apa yang dapat kita lakukan hari ini, untuk menjadikan masa depan yang lebih baik?”

Penulis: Nadyla Nur Fulantika – SADJIWA

Scroll to Top